Sabtu, 25 Juni 2016

Metode Geomagnetik

METODE GEOMAGNETIK
OLEH:
MEILDASARY ROMAN
60400114019


JURUSAN FISIKA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2016



A.    Sejarah Perkembangan Magnetik
 Sejarah perkembangan metode magnetik telah dikenal sekitar 400 tahun yang lalu. Orang yang pertama kali melakukan penelitian magnetisasi bumi secara ilmiah adalah Sir William Gilbert (1540 – 1603). Gilbert adalah orang yang pertama kali melihat bahwa medan magnet bumi ekivalen dengan arah utara – selatan sumbu rotasi bumi. Penemuan Gilbert kemudian diperdalam oleh Van Wrede (1843) untuk melokalisir endapan bijih besi dengan mengukur variasi magnet di permukaan bumi. Hasil penelitiannya kemudian dibukukan oleh Thalen (1879) dengan judul :” The Examination Of Iron Ore Deposite By Magnetic Measurement” yang kemudian menjadi pionir bagi pengukuran magnetisasi bumi (Geomagnet).
Dalam metode magnet salah satu metode geofisika yang digunakan untuk menyelidiki kondisi permukaan bumi dengan memanfaatkan sifat kemagnetan batuan yang diidentifikasikan oleh kerentanan magnet batuan. Metode ini didasarkan pada pengukuran variasi intensitas magnetik di permukaan bumi yang disebabkan adanya variasi distribusi (anomali) benda termagnetisasi di bawah permukaan bumi. Variasi intensitas medan magnetik yang terukur kemudian ditafsirkan dalam bentuk distribusi bahan magnetik dibawah permukaan, kemudian dijadikan dasar bagi pendugaan keadaan geologi yang mungkin teramati. Pengukuran intensitas medan magnetik dapat dilakukan di darat, laut maupun udara. Susceptibilitas magnet batuan adalah harga magnet suatu batuan terhadap pengaruh magnet, yang pada umumnya erat kaitannya dengan kandungan mineral dan oksida besi. Semakin besar kandungan mineral magnetit di dalam batuan, akan semakin besar harga susceptibilitasnya. Metoda ini sangat cocok untuk pendugaan struktur geologi bawah permukaan dengan tidak mengabaikan faktor kontrol adanya kenampakan geologi di permukaan dan kegiatan gunungapi. Metode magnetik sering digunakan dalam eksplorasi minyak bumi, panas bumi, dan batuan mineral serta bisa diterapkan pada pencarian prospeksi benda-benda arkeologi.


B.     Pengertian Magnetik
Magnet atau magnit adalah suatu obyek yang mempunyai suatu medan magnet. Kata magnet (magnit) berasal dari bahasa Yunani magnítis líthos yang berarti batu Magnesian. Magnesia adalah nama sebuah wilayah di Yunani pada masa lalu yang kini bernama Manisa (sekarang berada di wilayah Turki) di mana terkandung batu magnet yang ditemukan sejak zaman dulu di wilayah tersebut.
Suatu magnet adalah suatu materi yang mempunyai suatu medan magnet. Materi tersebut bisa dalam berwujud magnet tetap atau magnet tidak tetap. Magnet yang sekarang ini ada hampir semuanya adalah magnet buatan.
Magnet selalu memiliki dua kutub yaitu: kutub utara (north/ N) dan kutub selatan (south/ S). Walaupun magnet itu dipotong-potong, potongan magnet kecil tersebut akan tetap memiliki dua kutub. Magnet dapat menarik benda lain. Beberapa benda bahkan tertarik lebih kuat dari yang lain, yaitu bahan logam. Namun tidak semua logam mempunyai daya tarik yang sama terhadap magnet. Besi dan baja adalah dua contoh materi yang mempunyai daya tarik yang tinggi oleh magnet. Sedangkan oksigen cair adalah contoh materi yang mempunyai daya tarik yang rendah oleh magnet.
Ø  Sifat-sifat magnet
Setiap magnet mempunyai sifat (ciri) sebagai berikut :
1.      Dapat menarik benda logam tertentu.
2.      Gaya tarik terbesar berada di kutubnya.
3.      Selalu menunjukkan arah utara dan selatan bila digantung bebas.
4.      Memiliki dua kutub.
5.      Tarik menarik bila tak sejenis.
6.      Tolak menolak bila sejenis.

C.    Geo Magnetik
 Gaya tarik bumi atau gaya magnet bumi adalah cabang ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan magnet bumi. Biasanya disebut kutub magnet Bumi, geomagnetism melibatkan semua hal yang berkaitan dengan medan magnet yang diamati di dekat permukaan bumi, dalam bumi, dan meluas ke atas sampai perbatasan kemagnetan bumi. Penggunaan istilah ini umumnya terbatas pada pengamatan historis direkam untuk membedakannya dari ilmu-ilmu archeomagnetism dan paleomagnetism, yang berhubungan dengan medan magnet  batuan beku kuno dalam artefak arkeologi dan struktur geologi.
Komponen utama dari medan magnet diamati di permukaan bumi disebabkan oleh arus listrik yang mengalir di inti cair, dan disebut bidang utama. Vectorially ditambahkan ke komponen ini adalah bidang magnet batuan kerak, sementara variasi yang didorong dari sumber eksternal, dan bidang dari arus listrik yang disebabkan  variasi dari Bumi.
Medan magnetik bumi yang ditentukan pada setiap titik dengan yang arah vektor F. adalah bahwa sebuah jarum magnet seimbang sempurna, dan bebas berputar, bila berada dalam ekuilibrium. Kutub utara adalah salah satu yang di tempat di Bumi yang paling utara. Elemen yang digunakan untuk menggambarkan F vektor adalah H, komponen dari vektor diproyeksikan ke bidang horizontal; yang utara dan timur komponen X dan Y, masing-masing; Z komponen vertikal; F besarnya F vektor; sudut I, kemiringan vektor di bawah bidang horizontal, dan D dengan deklinasi magnet atau penyimpangan dari kompas dari utara geografis. Dengan konvensi, Z dan I ke bawah yang positif, dan D adalah positif ke timur (atau dapat diindikasikan sebagai timur atau barat utara). Elemen-elemen ini dapat dihubungkan satu sama lain dengan persamaan trigonometri. Lihat  kompas magnetik.
              Unsur dari medan magnetik bumi.  D = deklinasi, I= inklinasi.
Unsur dari medan magnetik bumi. D = deklinasi, I = kecenderungan, H = intensitas horizontal, X = intensitas utara, Y = intensitas timur, Z = intensitas vertikal, F total = intensitas.
 Sebuah kutub magnet adalah lokasi di mana medan secara vertikal sejajar, H = 0. Karena  terkadang kuat (misalnya,> 1000 nanotesla) anomali magnetik di permukaan bumi, ada beberapa lokasi di mana medan lokal vertikal. Namun, komponen medan yang mencakup ketinggian memadai untuk mengontrol partikel bermuatan dapat secara akurat ditentukan dengan menggunakan perhitungan dari ekspansi harmonik sferis menggunakan derajat sampai dengan n = 10. Memang, kutub dapat didefinisikan dengan menggunakan hanya dikutub utama (n = 1).
Kutub N = 1 kadang-kadang disebut sebagai kutub geomagnetik, dan dihitung dengan menggunakan istilah yang lebih tinggi sebagai kutub dipol. Istilah ini geomagnetik juga bisa merujuk ke kutub geomagnetik eksentrik, yang dapat dihitung dari n = 1 dan n = 2 harmonisa sehingga menjadi representasi terbaik dari sebuah dipol offset dari pusat Bumi. Yang terakhir ini telah digunakan sebagai model medan disederhanakan pada jarak 3 atau 4 jari-jari bumi. Karena jatuhnya lebih cepat, dari istilah yang lebih tinggi dengan jarak dari Bumi, dua kutub pendekatan yang utama n = 1 panjang dengan ketinggian meningkat, sampai distorsi karena pengaruh eksternal mulai mendominasi.
 Distribusi dari sudut dipol I atas permukaan bumi dapat diindikasikan pada dunia atau peta dengan kontur isoclines disebut, sepanjang I yang  konstan. isocline  I = 0 (yang mana jarum magnet seimbang terletak di horisontal) disebut khatulistiwa dipol. Khatulistiwa dipol adalah geofisiknya penting karena ada sebuah daerah di lapisan ionosfir E medan listrik yang kecil dapat menghasilkan arus listrik yang disebut besar, electrojet khatulistiwa.
D.    Metode Magnetik
Metode magnet adalah salah satu metode geofisika yang digunakan untuk menyelidiki kondisi permukaan bumi dengan memanfaatkan sifat kemagnetan batuan yang diidentifikasikan oleh kerentanan magnet batuan. Metode magnetik didasarkan pada pengukuran variasi intensitas medan magnetik di  permukaan bumi yang disebabkan oleh adanya variasi distribusi benda termagnetisasi di  bawah permukaan bumi. Variasi yang terukur (anomali) berada dalam latar belakang medan  yang relatif besar. Variasi intensitas medan magnetik yang terukur kemudian ditafsirkan  dalam bentuk distribusi bahan magnetik di bawah permukaan, yang kemudian dijadikan dasar  bagi pendugaan keadaan geologi yang mungkin. 
Metode magnetik memiliki kesamaan latar  belakang fisika dengan metode gravitasi, kedua metode sama-sama berdasarkan kepada teori  potensial, sehngga keduanya sering disebut sebagai metoda potensial.  Namun demikian,  ditinjau dari segi besaran fisika yang terlibat, keduanya mempunyai perbedaan yang  mendasar. Dalam magnetik harus mempertimbangkan variasi arah dan besar vektor  magnetisasi.  sedangkan dalam gravitasi hanya ditinjau variasi besar vektor percepatan  gravitasi.  Data pengamatan magnetik lebih menunjukan sifat residual yang kompleks.  Dengan demikian, metode magnetik memiliki variasi terhadap waktu jauh lebih besar.  Pengukuran intensitas medan magnetik bisa dilakukan melalui darat, laut dan udara.  Metode  magnetik sering digunakan dalam eksplorasi pendahuluan minyak bumi, panas bumi, dan  batuan mineral serta serta bisa diterapkan pada pencarian prospeksi benda-benda arkeologi.
Sedangkan Dalam metode geomagnetik, bumi diyakini sebagai batang magnet raksasa dimana medan magnet utama bumi dihasilkan. Kerak bumi menghasilkan medan magnet jauh lebih kecil daripada medan utama magnet yang dihasilkan bumi secara keseluruhan. Teramatinya medan magnet pada bagian bumi tertentu, biasanya disebut anomali magnetik yang dipengaruhi suseptibilitas batuan tersebut dan remanen magnetiknya. Berdasarkan pada anomali magnetik batuan ini, pendugaan sebaran batuan yang dipetakan baik secara lateral maupun vertikal. Eksplorasi menggunakan metode magnetik, pada dasarnya terdiri atas tiga tahap: akuisisi data lapangan, processing , interpretasi. Setiap tahap terdiri dari beberapa perlakuan atau kegiatan.
1.      Tahap  akuisisi
Pada tahap akuisisi, dilakukan penentuan titik pengamatan dan pengukurandengan satu atau dua alat. Untuk koreksi data pengukuran dilakukan.
Akuisisi data dilakukan dengan tahapan sebagai berikut :
a.    Sebelum dilakukan pengambilan data di lokasi, terlebih dahulu dilakukan pengukuran nilai background (data magnetik yang tidak terpengaruh oleh medan luar) untuk keperluan koreksi diurnal. Pengambilan data background dilakukan pada malam hari mulai pukul 20.00 sampai dengan pukul 01.00.
b.    Dua buah GEM proton magnetometer digunakan masing-masing untuk pengukuran pada base station dan station pengukuran (magnetometer mobile). Pada base dipasang 1 buah sensor dan diatur untuk mengambil data setiap sepuluh menit, sedangkan pada magnetometer mobile digunakan 2 buah sensor untuk pengukuran medan total serta gradio.
c.    Dilakukan pengambilan data disetiap station pengukuran dengan masing-masing tiga kali pengulangan. Data medan total serta gradio setiap station dicatat pada log book disertai dengan waktu pengukurannya.
d.    Pada base station selain alat melakukan pengambilan data secara otomatis setiap 10 menit, data tersebut dicatat pula dalam log book, juga disertai dengan waktu pengukurannya.
2.      tahap processing
Pada  tahap processing.Koreksi pada metode magnetik terdiri atas koreksi harian (diurnal ), koreksi topografi (terrain) dan koreksi lainnya.
3.      Tahap interpretasi
Sedangkan untuk interpretasi dari hasil pengolahan data dengan menggunakan software diperoleh peta anomali magnetik.
Metode ini didasarkan pada perbedaan tingkat magnetisasi suatu batuan yangdiinduksi oleh medan magnet bumi. Hal ini terjadi sebagai akibat adanya perbedaan sifatkemagnetan suatu material. Kemampuan untuk termagnetisasi tergantung dari suseptibilitas magnetik masing-masing batuan. Harga suseptibilitas ini sangat penting di dalam pencarian benda anomali karena sifat yang khas untuk setiap jenis mineral atau mineral logam.Harganya akan semakin besar bila jumlah kandungan mineral magnetik pada batuan semakin banyak.Pengukuran magnetik dilakukan pada lintasan ukur yang tersedia dengan interval antar titik ukur 10 m dan jarak lintasan 40 m. Batuan dengan kandungan mineral-mineral tertentu dapat dikenali dengan baik dalam eksplorasi geomagnet yang dimunculkan sebagai anomali yang diperoleh merupakan hasil distorsi pada medan magnetik yang diakibatkan oleh material magnetik kerak bumi atau mungkin juga bagian atas mantel. Metode magnetik memiliki kesamaan latar belakang fisika denga metode gravitasi,kedua metode sama-sama berdasarkan kepada teori potensial, sehingga keduanya seringdisebut sebagai metode potensial. Namun demikian, ditinjau ari segi besaran fisika yangterlibat, keduanya mempunyai perbedaan yang mendasar. Dalam magnetik harusmempertimbangkan variasi arah dan besaran vektor magnetisasi, sedangkan dalam gravitasihanya ditinjau variasi besar vektor percepatan gravitasi. Data pengamatan magnetik lebihmenunjukkan sifat residual kompleks. Dengan demikian, metode magnetik memiliki variasiterhadap waktu lebih besar. Pengukuran intensitas medan magnetik bisa dilakukan melalui darat, laut dan udara.

E.     Anomali Magnet
Anomali magnet terjadi karena adanya variasi medan magnet kearah spasial secara regional. Pola anomali ini dicirikan oleh pergantian antara anomali positif-negatif dan sejajar dengan sumbu pemekarannya. Pola ini dikenal dengan sebutan “zone of striped magnetic anomalies”. Hasil inverse anomali ini, dengan dibantu oleh data radiometri, umur lantai samudra yang bertambah terhadap jarak dari sumbu pemekaran dan kecepatan rata-rata pemekarannya dapat diturunkan. Intensitas medan magnet dipermukaan bumi diukur menggunakan magnetometer. Hasil pengukuran dari magnetometer ini berupa penjumlahan dari medan magnet bumi utama, variasi medan magnet bumi yang berhubungan dengan variasi kerentanan magnet batuan, medan magnet remanen dan variasi harian akibat aktivitas di matahari. Variasi medan magnet bumi yang berhubungan dengan variasi kerentanan magnet batuan sangat berhubungan dengan variasi k. Harga anomaly pada suatu titik amat digunakan dengan cara menghilangkan medan pertama, ketiga, dan keempat pada harga megnet pengukuran. Anomali magnetik dapat diturunkan dengan menggunakan hubungan Poisson’s dari persamaan yang berhubungan dengananomali gaya berat (gravitasi).
Adapun salah satu ayat yang berhubungan dengan materi metode geomagnetik adalah Qs al-Anbiyah ayat 30:
óOs9urr&ttƒtûïÏ%©!$#(#ÿrãxÿx.¨br&ÏNºuq»yJ¡¡9$#uÚöF{$#ur$tFtR%Ÿ2$Z)ø?u$yJßg»oYø)tFxÿsù($oYù=yèy_urz`ÏBÏä!$yJø9$#¨@ä.>äóÓx«@cÓyr(Ÿxsùr&tbqãZÏB÷sãƒÇÌÉÈ
30. dan Apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka Mengapakah mereka tiada juga beriman?










DAFTAR PUSTAKA



Tidak ada komentar:

Posting Komentar